![]() |
| Ilustrasi |
Garismerah, Luwu Timur – Kasus dugaan penganiayaan yang melibatkan oknum Lurah Tomoni berinisial FR beserta adiknya terhadap Muh. Satria Saputra kini menjadi sorotan luas masyarakat. Peristiwa terjadi Sabtu (11/7/2026) sekira pukul 14.30 WITA di sebuah tempat pangkas rambut Desa Mandiri, Kecamatan Tomoni, dan terbukti merupakan puncak dari perselisihan yang sudah berlangsung lama.
Saat dikonfirmasi awak media usai mendapatkan perawatan medis, Satria menceritakan awal mula hubungannya dengan pelaku dulunya cukup dekat. Ia bahkan pernah tinggal lama di kediaman FR dan ikut membantu proses pencalonan ayah pelaku.
"Saya pernah bekerja di bawah arahan beliau, tapi sering diperlakukan kurang layak. Saat saya hendak berhenti, beliau justru membujuk saya kembali. Janji beliau sangat manis, katanya akan berikan tempat usaha pangkas rambut baru dan mengurus cicilan ponsel saya. Karena percaya, saya kembali tinggal di rumahnya sambil menunggu janji itu ditepati," ungkap Satria dengan nada sedih.
Bulan berganti, janji tersebut tidak kunjung terwujud. Saat kebutuhan mendesak datang untuk membayar cicilan ponsel dan mengirim uang kepada orang tua, FR pernah memberikan Rp1.800.000 yang dikhususkan untuk pembelian alat cukur. Karena keadaan darurat keluarga, Satria terpaksa menggunakan sebagian uang itu dengan niat akan menggantinya kelak.
Mengetahui hal itu, kemarahan FR meledak. Ia datang menyita ponsel korban secara paksa. Perselisihan yang terjadi setahun lalu sebelum Pilkada ini semakin memuncak dengan adanya pesan ancaman yang dikirimkan pelaku.
"Beliau sempat kirim pesan ke kakak saya, ancam akan memukul saya jika bertemu di mana saja. Padahal saya sudah banyak membantu keluarganya. Saya hanya bisa pasrah saat itu," tambahnya.
Setelah bekerja di Masamba hingga Sorowako, Satria akhirnya kembali bekerja di tempat pangkas rambut Desa Mandiri yang baru dijalaninya selama empat hari. Di situlah FR melacak keberadaannya dan datang tanpa peringatan sedikit pun.
"Saat itu saya sedang duduk santai main ponsel di depan toko. Tiba-tiba beliau turun dari mobil bersama adiknya, langsung menghampiri dan memukul wajah saya sekuat tenaga tanpa bicara apa-apa. Pukulan itu langsung membuat pelipis kiri saya robek dan berdarah deras," cerita Satria sambil menahan rasa sakit.
Korban berusaha lari masuk ke dalam ruangan untuk menyelamatkan diri, namun dikejar terus. Adik FR menahan tubuh Satria, sementara FR kembali melayangkan pukulan keras ke arah kepala. Setelah melampiaskan kemarahan, keduanya pergi begitu saja meninggalkan korban yang terkapar lemah.
Saat ini Satria telah dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan visum et repertum dan melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolsek Mangkutana."Saya tidak membalas karena saya tahu beliau pejabat. Tapi saya minta keadilan. Saya ingin pihak berwajib menindak tegas kasus ini, karena beliau melakukan kekerasan di depan umum sebagai ASN yang seharusnya menjadi teladan," tegas Satria mengakhiri penuturannya.
Pihak kepolisian saat ini sedang menanganai kasus dugaan pengeniyaan FR selaku oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) beserta adiknya . Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pelaku maupun instansi terkait.
Media ini tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada seluruh pihak yang disebutkan dalam pemberitaan sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. RED/TIM

