Bacarita Buku Vol. X: Saat Komunitas Titik Tengah Kuliti 'Il Principe' Machiavelli di Sambi Rampas

Pamflet Kegiatan Bacarita Buku Vol. X Komunitas Titik Tengah (ist) 


Garismerah, MATIM– Rabu malam jadi sakral di Sambi Rampas. Di tengah senyap Kecamatan Sambi Rampas, Manggarai Timur, Komunitas Titik Tengah kembali menggelar ritual literasi mingguan: Bacarita Buku Vol. X. Kali ini, buku yang dibedah tak main-main: Il Principe karya Niccolò Machiavelli.

Meski berbasis di kecamatan, Titik Tengah punya mimpi besar. “Kami optimis Bacarita Buku bisa nyumbang naiknya minat baca NTT,” ujar Yudha Pratama, Founder Titik Tengah.

Bagi Yudha, literasi bukan sekadar baca buku. “Gerakan kami mau melampaui itu. Tujuan literasi sesungguhnya adalah kemampuan berpikir utuh,” tegasnya. Senada, anggota Titik Tengah, Sulatin, menambahkan, “Literasi itu kemampuan memahami pengetahuan secara holistik.”

Pilihan atas Il Principe bukan tanpa alasan. Di tengah kegelisahan geopolitik dan isu kepemimpinan kontemporer, bedah buku ini jadi cara Titik Tengah merespon arah kekuasaan negara yang dinilai mulai mengarah pada praktik diktator.

Sebagai pemantik, Yudha membongkar 3 poros utama Machiavelli: Manusia, Dominion, dan Pengaruh.

Pertama, Manusia. Bagi Machiavelli, manusia itu egois, tidak setia, dan plin-plan. “Ini realitas yang harus dipahami setiap pemimpin,” kata Yudha.

Kedua, Dominion atau Kawasan. Untuk menaklukkan wilayah, seorang pangeran butuh dua senjata: Fortuna—kemampuan membaca dan memanfaatkan peluang, serta Virtù—kemampuan agitasi dan propaganda.


Diskusi berlangsung hangat hingga larut. Bacarita Buku membuktikan, dari Sambi Rampas pun bisa lahir pemikiran kritis soal kekuasaan.