o |
| Foto Ilustrasi |
Garismerah, Konawe- Kayla Anindya Putri, seorang siswi asal Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, mendadak menjadi sorotan setelah menulis surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia.
Dalam suratnya yang viral di media sosial dan juga diterima Media Garismerah.id Rabu 6 Mei 2026, Kayla mengungkapkan keprihatinan mendalam atas ketimpangan sosial yang terjadi di daerahnya, yang notabene merupakan salah satu penghasil kekayaan tambang terbesar.
Krisis Layanan Kesehatan di Tengah Kekayaan Alam, Kayla menyoroti kontradiksi tajam antara kekayaan sumber daya alam di wilayahnya dengan minimnya fasilitas publik, terutama layanan kesehatan. Ia menyebutkan bahwa di daerahnya yang menjadi lokasi operasional tambang raksasa, warga justru kesulitan mendapatkan akses medis.
"Kami hidup di atas tanah yang kaya, yang nikelnya dibawa keluar untuk membangun peradaban dunia. Tapi ironisnya, di sini, untuk mencari satu dokter pun kami harus bertaruh nyawa karena jarak dan fasilitas yang tidak ada," tulis Kayla dalam penggalan suratnya.
Bagaimana mungkin daerah yang mengeruk miliaran rupiah dari perut buminya tidak mampu menyediakan dokter? Saat kami sakit, jarak ke rumah sakit sangat jauh. Warga, terutama anak-anak, berisiko tinggi menghadapi gangguan kesehatan akibat dampak tambang. Janji Mobile Health Clinic seringkali hanya menjadi seremonial belaka.
Kritik Keras terhadap Pemda KonaweTidak hanya soal fasilitas, Kayla juga secara tegas mengkritik sikap Pemerintah Daerah (Pemda) Konawe yang dinilai abai terhadap tuntutan masyarakat terkait hak dana Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dari PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM).
Menurut laporan dari Jurnal Suara Pinggiran, pelaksanaan dana PPM di wilayah terdampak seperti Kecamatan Routa diduga masih tersumbat kepentingan elit, sementara transparansi kepada masyarakat sangat minim. Kayla menilai Pemda lebih cenderung berpihak pada kepentingan korporasi (pro-perusahaan) ketimbang menjadi jembatan bagi kesejahteraan rakyatnya sendiri.
Dugaan Adu Domba di MasyarakatDalam suratnya, Kayla juga menyuarakan kekhawatiran tentang situasi di akar rumput. Ia menduga adanya upaya "adu domba" antar kelompok masyarakat yang pro dan kontra terhadap kebijakan tambang, yang menurutnya dipicu oleh ketidakhadiran pemerintah dalam memberikan solusi yang adil.
Berdasarkan data dari Info Sultra, lonjakan produksi PT SCM yang mencapai puluhan juta ton seharusnya diikuti oleh peningkatan dampak sosial yang nyata bagi seluruh warga desa Kecamatan Routa. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan adanya blokade dan konflik yang berkepanjangan akibat kurangnya keterbukaan informasi.
Harapan kepada PresidenMelalui surat tersebut, Kayla memohon kepada Presiden agar turun tangan mengevaluasi kebijakan Pemda Konawe dan memastikan bahwa dana PPM benar-benar tersalurkan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
"Jangan biarkan masa depan kami terkubur bersama lubang-lubang tambang ini. Kami butuh dokter, kami butuh keadilan, dan kami butuh pemerintah yang berdiri bersama rakyat, bukan sebagai pembela pengusaha," tutupnya. (Red/Gm)
