Gebrakan Baru KNPI Sulsel: Doktor Antropologi Muhammad Syaiful Pimpin Gerbong Perubahan

Dr. Muhammad Syaiful (SG) 

Garismerah, Makassar, 5 Mei 2026 — Malam itu Gammara Hotel tak sekadar jadi saksi pelantikan. Ada angin segar yang berembus di tubuh DPD KNPI Sulsel 2026–2029. Namanya Dr. Muhammad Syaiful. Bukan politisi karbitan, tapi Doktor Ilmu Politik UIN Alauddin Makassar yang kini resmi mengemban amanah sebagai Ketua Harian.


Mendampingi Ketua DPD KNPI Sulsel Hj. Vonny Ameliani Suardi, SE, MH, pelantikan Dr. Syaiful disaksikan langsung tiga Ketua Umum DPP KNPI: Haris Pertama, Putri Khairunnisa, dan Ali Hanafiah. Tapi yang bikin malam itu beda bukan deretan nama besar di panggung. Melainkan sosok yang berdiri di barisan penggeraknya.


Di ruang kelas, ia dosen Ilmu Politik. Di lapangan, ia antropologi yang bergulat dengan riset dan komunitas rentan di Sulsel. Dua dunia itu yang ia bawa masuk ke KNPI. Bagi Dr. Syaiful, gelar bukan hiasan dinding. Ilmu harus membumi.


“KNPI nggak boleh lagi terjebak seremonial,” tegasnya usai dilantik. “Saya nggak mau organisasi ini cuma jago bikin deklarasi. KNPI harus jadi ruang hidup—tempat gagasan diuji, kapasitas diasah, dan gerakan sosial benar-benar nyentuh rakyat.”


Dr. Syaiful membawa visi yang tajam: KNPI yang akademis, berbasis riset, dan hadir di tengah masalah nyata. Baginya, tantangan pemuda Sulsel hari ini terlalu kompleks untuk dijawab dengan spanduk dan panggung orasi. Pengangguran tinggi, kualitas pendidikan timpang, kesehatan mental yang rapuh, sampai ruang politik yang sempit. Semua itu butuh jawaban berbasis data, bukan sekadar semangat.


Karena itu, ia mengajak pemuda Sulsel menengok ke belakang. Bukan untuk nostalgia, tapi mencari nyala. Sosok seperti Syekh Yusuf Al-Makassari ia sebut sebagai kompas: ulama, intelektual, pejuang kemanusiaan yang lahir dari tanah ini. “Sejarah kita penuh orang besar. Pemuda Sulsel nggak boleh minder atau tercerabut dari akarnya sendiri,” ujarnya.


Kalimat paling menohok malam itu datang saat ia bicara bonus demografi. “Narasi optimisme nggak cukup,” katanya. “Bonus demografi bisa jadi bencana demografi kalau pemudanya nggak siap. KNPI harus bikin gerakan yang progresif, inklusif, dan berakar ke problem sosial.”


Sebagai antropolog, ia menolak jargon kolaborasi yang kosong. Baginya, setiap kebijakan KNPI harus lahir dari pemetaan masalah yang riil. Turun, dengar, catat, baru bergerak.


Pelantikan 5 Mei bukan sekadar seremoni ganti pengurus. Di tangan Dr. Muhammad Syaiful, KNPI Sulsel diproyeksi jadi rumah intelektual yang kritis dan berdampak. Bukan lagi objek pembangunan yang disuapi program, tapi subjek yang merancang perubahan.


Dari mimbar akademik ke medan pengabdian, kini ia bawa kampus ke jalanan, dan jalanan ke meja kajian. KNPI Sulsel, bersiaplah jadi lebih tajam. (**)