Komunitas Titik Tengah Bedah “Negeri Para Bedebah” di Pota: Sastra Jadi Alat Lawan Oligarki

 

Pamflet Bacarita Buku sesi Ke 11 Komunitas Titik Tengah (YP)

Garismerah, Pota– Komunitas literasi _Titik Tengah_ sukses menggelar diskusi publik bertajuk “Bacarita Buku” di Sambi Rampas, Pota, Manggarai Timur, Rabu malam 29/4/2026. Mengangkat novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye, kegiatan ini menghadirkan M. Ichbal Zainudin sebagai speaker dan Bayuisme sebagai pengantar.


Acara yang dimulai pukul 19.30 WITA tersebut dihadiri puluhan pemuda dari berbagai latar belakang: guru, petani, nelayan, wartawan, hingga aktivis. Dengan format lesehan dan suasana dialogis, diskusi berlangsung hangat dan kritis.


“Membaca buku bukan aktivitas elitis. Dari Pota, kita buktikan bahwa sastra bisa jadi cermin untuk membaca realitas sosial-politik hari ini,” ujar Sulatin salah satu anggota komunitas


Bedah Buku: Saat Fiksi Menampar Realitas


Dalam paparannya, M. Ichbal Zainudin membedah tokoh utama Tommy, seorang bankir muda yang berhadapan dengan konspirasi para “bedebah” – konglomerat, pejabat, dan politisi yang bersekongkol merampok uang negara melalui skema penyelamatan bank.


“Novel ini terbit 2012, tapi rasanya seperti membaca koran hari ini. Substansinya masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia 2026,” tegas Ichbal.


Diskusi menghangat ketika Bayuisme melontarkan pertanyaan reflektif: “Jika Tommy hidup di Manggarai Timur hari ini, siapa yang akan dia lawan? Mafia perbankan? Mafia BBM subsidi? Mafia proyek? Atau mafia tanah?” Pertanyaan tersebut memantik cerita pemuda tentang praktik perbankan, proyek mangkrak, dan janji politik yang tak terealisasi.


Suara Pemuda: Buku Ini Cerita Kami


Sesi diskusi memberi ruang bagi pemuda untuk bersuara. 


Yudha Pratama, seorang guru asal Pota,mengaku tersentuh dengan tema novel. “Saya mendengar cerita Tommy, saya jadi mengerti. Praktik lembaga keuangan selama ini yang dijalankan dengan penuh tipu muslihat. Ternyata ada ‘bedebah’ yang main. Buku bikin kami tidak merasa bodoh,” ujarnya.


Sementara itu, Jailan Ahmad, wartawan, melihat buku sebagai pemantik keberanian. “Selama ini kami takut bicara. Takut dibilang melawan. Tapi Tommy itu sendirian saja berani. Kami di kampung kalau bersatu, kenapa takut? Acara begini harus sering, biar kami tidak gampang dibodohi,” tegasnya.


Relevansi Tema “Negeri Para Bedebah” di Indonesia 2026


Titik Tengah merangkum 4 tema besar novel yang kontekstual dengan situasi nasional dan daerah:


1. Oligarki & Perampokan Berjamaah: Praktik kolusi penguasa-pengusaha dalam perumusan kebijakan dan penguasaan proyek strategis masih marak terjadi.

2. Kebenaran yang Bisa Dibeli: Menguatnya fenomena buzzer, pembungkaman kritik melalui UU ITE, dan hilangnya kasus-kasus besar dari pemberitaan.

3. Kriminalisasi Orang Baik: ASN berintegritas, pengusaha jujur, dan aktivis kerap mendapat tekanan atau disingkirkan dari sistem.

4. Rakyat Sebagai Korban: Kasus penimbunan BBM subsidi oleh oknum aparat, pemotongan bansos, tidak ada transparansi sistem perbankan, hingga penggusuran tanah adat menunjukkan rakyat kecil selalu berada di posisi paling dirugikan.


Penegasan: Literasi sebagai Gerakan Perlawanan


“Bacarita Buku bukan sekadar acara baca-baca. Ini adalah ikhtiar membangun kesadaran kritis. Diam dalam sistem yang busuk adalah bentuk persetujuan,” kata Yudha Pratama, Founder Titik Tengah


Ia menegaskan, pesan utama Negeri Para Bedebah adalah ajakan untuk tidak menjadi bagian dari kebusukan. “Perubahan dimulai ketika ada cukup banyak ‘Tommy’ yang berani berkata tidak. Dan itu bisa dimulai dari desa, dari Pota.”


Komunitas Titik Tengah berkomitmen menjadikan “Bacarita Buku” sebagai agenda rutin untuk mendorong budaya literasi dan diskusi publik yang sehat di Manggarai Timur.


Tentang Titik Tengah


Titik Tengah adalah komunitas literasi dan diskusi independen yang berbasis di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Didirikan pada 2025 oleh sekelompok anak muda Matim, Titik Tengah bergerak untuk memecah sentralisasi wacana yang selama ini didominasi kota. Melalui program “Bacarita Buku”, diskusi tematik, sekolah pemikiran, dan advokasi isu lokal, Titik Tengah percaya bahwa nalar kritis adalah hak semua warga, bukan privilese. Bagi Titik Tengah, kampung bukan objek, tapi subjek perubahan. 


Kontak Media:

Sulatin – Koordinator Titik Tengah  

CP: 0812-3775-5838  

TikTok: @TitikTengah