Marak Pencurian Ternak, KMPI Minta Kapolres Sinjai Lebih Aktif


Garismerah, Sinjai — Maraknya dugaan aktivitas pencurian ternak di Kabupaten Sinjai kian meresahkan masyarakat. Rasa aman warga terus terkikis seiring meningkatnya kasus kehilangan ternak yang terjadi berulang dalam beberapa waktu terakhir.


Sejumlah laporan masyarakat mengungkap adanya praktik mencurigakan, di mana korban diduga dimintai sejumlah uang agar ternak yang telah dicuri dapat dikembalikan. Kondisi ini menempatkan warga pada situasi serba terpaksa, tanpa pilihan selain mengikuti permintaan tersebut demi mendapatkan kembali aset mereka.


Aktivis Komite Merah Putih Indonesia (KMPI) Sulawesi Selatan menilai bahwa pola kejahatan ini tidak lagi bersifat sporadis, melainkan terindikasi terorganisir. Ironisnya, hingga kini belum terlihat langkah pencegahan yang signifikan dari aparat penegak hukum.


Wahid, perwakilan KMPI Sul Sel, menegaskan bahwa pencurian ternak bukanlah persoalan baru di Kabupaten Sinjai. 

Kejahatan ini disebut telah berulang kali terjadi dari tahun ke tahun, namun belum mampu ditangani secara tuntas oleh pihak kepolisian.


“Ini bukan lagi kasus biasa. Jika praktik ini benar terjadi secara terorganisir, maka ini adalah bentuk kejahatan serius yang harus segera diusut tuntas. Tidak boleh ada pembiaran,” tegas Wahid.


KMPI juga secara terbuka menyoroti kinerja Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sinjai yang dinilai belum menjadikan persoalan ini sebagai prioritas utama. Padahal, keamanan masyarakat merupakan tanggung jawab mendasar institusi kepolisian.


KMPI mendesak Polres Sinjai untuk segera mengambil langkah konkret, mulai dari peningkatan patroli, penguatan intelijen, hingga penindakan tegas terhadap pelaku dan jaringan yang terlibat.


Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum akan semakin merosot.


“Negara tidak boleh kalah dari pelaku kejahatan. Jika hukum tidak hadir, maka keresahan masyarakat akan berubah menjadi kemarahan,” tutup Wahid. Red/Gm