Nasib 500 Honorer Gowa Terkatung! DPP Gempa Indonesia Tulis Surat Menyentuh untuk Presiden Prabowo


Garismerah, Gowa – Nasib ratusan tenaga honorer di Kabupaten Gowa kini berada di ujung tanduk. Sekitar 500 orang honorer, yang sebagian besar tidak terdata dalam sistem pengangkatan nasional, kini hanya bisa menunggu tanpa kepastian. Harapan untuk menjadi bagian dari Aparatur Sipil Negara (ASN) semakin redup, membuat masa depan mereka tak ubahnya seperti menunggu dalam gelap.


Prihatin atas ketidakjelasan yang dialami para honorer tersebut, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LSM Gempa Indonesia mengambil langkah berani. Melalui Ketua wakil ketua, Ari Paletteri, mereka mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto, dengan harapan suara para honorer yang terpinggirkan ini bisa sampai ke telinga pemimpin tertinggi negeri.


Dalam surat tersebut, DPP Gempa Indonesia menyampaikan jeritan hati para honorer yang selama bertahun-tahun mengabdi tanpa status yang jelas.


"Mereka bukan sekadar angka, mereka adalah manusia yang setiap harinya bekerja melayani bangsa, namun kini harus hidup dalam ketidakpastian. Kami hanya meminta keadilan, bukan belas kasihan," tulis Ari Paletteri dengan nada haru.


LSM Gempa Indonesia menyatakan bahwa mereka mengirimkan surat ini sebagai bentuk kepedulian dan perwakilan suara para honorer di Gowa, yang selama ini merasa diabaikan oleh sistem dan tak punya ruang untuk menyuarakan keresahannya.


“Pak Presiden, dengarlah suara mereka yang selama ini hanya bisa berteriak dalam diam. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Mereka menanti bukan karena malas bergerak, tetapi karena negara belum sepenuhnya hadir untuk mereka,” imbuh Ari.


DPP Gempa Indonesia berharap Presiden Prabowo dapat segera memberikan perhatian khusus terhadap nasib para honorer yang belum terakomodir, khususnya di Kabupaten Gowa, dan mengambil langkah-langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan ini secara adil dan manusiawi.


“Jika bukan negara yang melindungi mereka, lalu siapa lagi?” ujar Ari Paletteri menutup pernyataannya dengan nada getir namun penuh harapan. (**)